AKREDITASI

          Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi adalah rumah sakit milik Pemerintah Daerah Kabupaten Blitar, kelas B, mempunyai tempat tidur (TT) 250, dan sebagai pusat rujukan di Kabupaten Blitar. RSUD Ngudi Waluyo Wlingi sedang berupaya mewujudkan visi Bupati, yaitu “Menuju Kabupaten Blitar Lebih Sejahtera, Maju, dan Berdaya Saing.”
        
           RSUD Ngud Waluyo Wlingi menetapkan visi “Menjadi Rumah Sakit Pilihan Masyarakat di Blitar Raya dan Sekitarnya tahun 2021”. Visi rumah sakit memerlukan usaha seluruh jajaran untuk dapat memuaskan semua masyarakat sebagai penerima pelayanan. Dalam pelaksanaan pelayanan, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi harus mewujudkan pelayanan yang cepat, balk, dan profesional. Peningkatan kualitas layanan ini adalah wujud akreditasi paripurna RSUD Ngudi Waluyo Wlingi pada November 2016.
       
          Akreditasi rumah sakit adalah pengakuan oleh pemerintah kepada rumah sakit karena telah memenuhi standar yang telah ditetapkan. Akreditasi menunjukkan komitmen nyata sebuah rumah sakit yang senantiasa berupaya mengurangi risiko bagi pasien, staf rumah sakit, dan lingkungan. Sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan nomor 44 tahun 2009, dalam melakukan pelayanan, rumah sakit harus berupaya meningkatkan mutu pelayanan dan wajib terakreditasi secara berkala minimal 3 tahun sekali. Predikat lulus paripurna dalam akreditasi menunjukkan bahwa pelayanan telah dilakukan sesuai standar, bermutu, dan mengutamakan keselamatan pasien.
        
          Persiapan yang dilakukan tidak hanya pada pemenuhan atau perbaikan sarana dan prasarana yang ada, tetapi juga dan sisi sumber daya manusia (SDM) balk dan segi kualitas maupun kuantitas.

          Perjalanan panjang untuk memenuhi hal tersebut dimulai pada tahun 2014. Upaya yang dilakukan oleh manajemen RS diawali dengan memperbanyak referensi tentang kegiatan akreditasi. Kegiatan untuk menambah referensi antara lain dengan melakukan studi banding ke RS yang telah mengikuti akreditasi dan dinyatakan lulus, mengirim staf RS untuk mengikuti kegiatan seminar dan workshop eksternal yang diselenggarakan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Rencana kegiatan tersebut tentunya tidak luput dan pantauan pemilik RS, yaitu Pemerintah Kabupaten Blitar, yang selalu mendukung kegiatan RS dalam upaya meningkatkan mutu dan keselamatan pasien. Dukungan yang diberikan tidak hanya bersifat materiil akan tetapi juga non materiil.
        
          Secara filosofi, kegiatan akreditasi merupakan bentuk perhatian dan perlindungan pemerintah dengan memberikan pelayanan yang profeslonal.
        
          Standar penilaian akreditasi RS versi tahun 2012 ini ternyata jauh berbeda dengan standar penilaian akreditasi sebelumnya, yang lebih mengutamakan kelengkapan dokumentasi. Berbekal hasil studi banding tersebut menjadi momentum terbentuknya tim akreditasi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Standar penilaian akreditasi ini terbagi menjadi 4 kelompok besar, yaitu kelompok standar pelayanan berfokus pada pasien, kelompok standar manajemen rumah sakit, sasaran keselamatan pasien, dan sasaran Millennium Development Goals (MDG’s).

          Kelompok standar pelayanan berfokus pada pasien dibagi menjadi 7 kelompok kerja, yang meliputi Akses Pelayanan dan Kontinuitas (APK), Hak Pasien dan Keluarga (HPK),Asesmen Pasien (AP), Pelayanan Pasien (PP), Pelayanan
Anestesi dan Bedah (PAB), Manajemen dan Penggunaan Obat (MPO) dan Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK).

          Kelompok standar manajemen rumah sakit, terbagi menjadi 6 kelompok kerja, meliputi Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP), Pencegahan dan Pengendalian lnfeksi (PPI), Tata Kelola Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP), Kualifikasi dan Pendidikan Staf (KPS), Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) dan Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI).

          Sasaran keselamatan pasien dan sasaran MDG’s menjadi kelompok belajar tersendiri. Dan standar yang ditentukan, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi membentuk 15 tim kelompok kerja untuk mensukseskan pelaksanaan akreditasi. Pemilihan anggota dalam tim kelompok kerja ini disesualkan dengan keahlian dan kemampuan yang dimiliki staf.

          Pembenahaan dan pemenuhan sarana dan prasarana fasilitas RSUD Ngudi Waluyo Wlingi terus dilakukan untuk memenuhi standar yang telah ditetapkan. Contoh kegiatan yang dilakukan adalah pembangunan gedung Instalasi Bedah Sentral (lBS) dan adanya ruang sterilisasi sentral (CSSD). Peningkatan keamanan baik bagi pasien dan pengunjung adalah dengan mengadakan alat perekam atau CCTV dan finger print. Alat CCTV ini diletakkan ditempat yang berisiko tinggi maupun di lokasi yang strategis untuk pengawasan jalannya pelayanan. Salah satu lokasi yang diberi CCTV adalah ruangan bayi, ruangan yang berisiko tinggi terjadi penculikan bayi. Alat finger print diletakkan di ruang yang memerlukan pengawasan lebih yaitu di ruang penyimpanan berkas rekam medis dan
di ruang bayi.

          Akreditasi dilaksanakan dalam beberapa tahap, yaitu tahap persiapan, tahap survei simulasi, tahap pelaksanaan akreditasi, dan tahap paska survei akreditasi.

         Kegiatan yang dilaksanakan di tahan persiapan adalah self assessment melalui pembentukan pokja akreditasi dan asesor intenal rumah sakit. Pimpinan dan seluruh pegawai sepakat melaksanakan persiapan survei akreditasi rumah sakit dengan sosialisasi pada setiap kesempatan dengan menjelaskan kaitan
akreditasi dengan mutu pelayanan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.

          Pada tahap simulasi, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi mengundang surveior dan KARS untuk melakukan penilaian menggunakan instrumen akreditasi rumah sakit yang sama persis dengan survei akreditasi. RSUD Ngudi Waluyo Wlingi melaksanakan survei simulasi pada tanggal 23-25 Agustus 2016.

          Tahap yang paling menentukan adalah pelaksanaan survei akreditasi. Pada tahap ini, survei dilaksanakan oleh KARS menggunakan instrumen akreditasi rumah sakit. Hasil penilaian dirangkum untuk diserahkan ke KARS sebagai rekomendasi untuk sertifikasi.RSUD Ngudi waluyo wlingi melaksanakan survei akreditasi pada tanggal 28-30 November 2016. Dinyatakan lulus paripurna bintang lima pada tanggal 21 Desember 2016.

          Kegiatan pada pasca akreditasi berupa pembinaan yang bertujuan mendorong manajemen rumah sakit untuk memantau pelaksanaan rekomendasi hasil survei, memberikan arahan untuk dapat memenuhi rekomendasi, dan melakukan evaluasi terhadap penerapan standar yang berdampak pada peningkatan mutu pelayanan. Kegiatan pembinaan pasca akreditasi dilakukan paling cepat 12 bulan setelah dilakukan survei akreditasioleh KARS.

          Semua pihak yang terlibat dalam proses akreditasi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi tentu berharap bahwa kelulusan paripurna dapat membawa kebaikan dan pelayanan paripurna bagi semua. (mivi)