Waspada Stres dalam Bekerja

“Akhir-akhir ini Dilan sering ditegur oleh atasannya. Dilan sering datang terlambat, namun hal ini terjadi karena ia harus lembur sehari sebelumnya. Pekerjaan Dilan pun meleset dari deadline yang ditetapkan karena ia harus memegang pekerjaan teman satu ruang yang kebetulan sedang sakit hampir 2 minggu ini. Sampai di rumah pun, ia tidak sempat lagi kemana-mana, langsung tidur lalu bangun kesiangan.”

Pernah mengalamai kejadian seperti Dilan yang galau tiba-tiba dipanggil atasan? Sebenarnya siapa sih yang salah? Dilan yang lebay atau bos yang kelewat cerewet.

Singkirkan dulu mencari yang salah karena kondisi tersebut seringkali dialami dalam lingkungan kerja. Anda merasa sudah bekerja dengan keras namun masih mendapatkan komplain yang ujung-ujungnya kinerja Anda dipertanyakan. Ketahuilah, Anda sedang dilanda stres.

Apa itu stres? Stres bukan berarti gila, penyakit atau gangguan jiwa. Meskipun akan mengarah ke gangguan jiwa jika tidak tertangani dengan baik. Stres adalah sesuatu hal, benda, kejadian, atau peristiwa yang menimbulkan tekanan dan reaksi fisik pada tubuh kita. Reaksi fisik pun beragam mulai ringan  sampai berat dan membahayakan nyawa. Hans Selye, seorang pionir dalam teori stres mendefinisikan stres dalam dua kutub positif (eustress) dan negatif (distress). Eustress merupakan stres yang memunculkan reaksi baik dalam diri, misalnya mendapatkan promosi jabatan. Sedangkan distress merupakan stres yang memunculkan reaksi negatif dalam diri, misalnya dimarahi oleh atasan.

Secara umum, manusia akan merespons stres dengan dua cara yaitu fight or flight Liputan (menghadapi atau lari). Menghadapi atau lari sama- sama memiliki konsekuensi dalam fisik dan mental. Reaksi stres terhadap fisik nampak pada meningkatnya denyut jantung, pusing, mual, muntah, dan nyeri perut. Reaksi mental atau psikis yang kurang nampak karena merupakan proses yang\ ada dan tersimpan di otak. Terkadang tanpa disadari, tiba- tiba tidak bergairah dan tidak semangat berangkat kerja, mudah lelah, mudah tersinggung, dan tempat kerja tidak menyenangkan lagi untuk dilihat.

Stres dan penyakit Psikosomatis adalah istilah yang familier dalam bidang kesehatan untuk gejala penyakit yang muncul namun penyebab tidak diketahui dengan jelas. Stres pada dasarnya dapat mempengaruhi dan cenderung menurunkan imunitas tubuh. Kondisi stres yang tidak terselesaikan akan mendorong kinerja organ tubuh melemah dan terjadi kerusakan degeneratif.

Bagaimana menghadapi stres? Mengutip pendapat Richard Lazarus, cara menghadapi stres dapat dibedakan dalam dua cara. Cara yang pertama, fokus pada penyelesaian masalah yang dihadapi. Sedangkan cara yang kedua adalah mengubah respons emosi terhadap stresor atau sumber stres.

Apakah saat ini Anda sedang mengalami stres? Ada baiknya Anda memperhatikan beberapa hal di bawah ini. Jika Anda banyak mendapatkan jawaban “ya” maka segeralah mencari pertolongan. Segera konsultasikan masalah Anda dengan orang yang bisa membuat Anda nyaman, atau profesional seperti psikolog.
1. Merasa berat untuk memulai tugas atau tidak bergairah di tempat kerja
2. Merasa lebih mudah tersinggung dengan klien, pelanggan, atau rekan kerja Merasa lebih mudah lelah dan mengalami penurunan produktivitas
4. Merasa pesimis terhadap masa depan pekerjaan
5. Menjadi lebih sulit tidur atau justru lebih banyak tidur
6. Lebih mudah sakit, lebih lama sembuh, dan nyeri di bagian tubuh tertentu
7. Nafsu makan berkurang atau makan enak/ banyak sebagai pelampiasan
8. Menghibur diri dengan rokok, game, aktivitas internet, judi, alkohol, obat- obatan, atau zat psikotropika lainnya
9. Menjadi tidak peduli, jenuh, judes, dan sinis di tempat kerja
10. Merasa marah dan tidak suka dengan semua kondisi di tempat kerja.

Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan ketika masih ada dua atau tiga perasaan di atas muncul.
1. Ambil jarak sejenak Ketika muncul perasaan tidak nyaman, atau perasaan negatif lainnya yang mengganggu, segera ambil waktu untuk diri sendiri dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan untuk Anda.
2. Diskusikan secara asertif Ketika perasaan negatif sudah berkurang dan Anda merasa nyaman untuk mengkomunikasikan, segera lakukan. Diskusikan apa yang Anda rasakan, harapan, dan kondisi yang hadapi. Jika Anda mengkomunikasikan dengan atasan Anda, katakan dari awal bahwa Anda ingin mengkomunikasikan untuk mendapatkan solusi yang terbaik.
3. Buat kesepakatan Buat kesepakatan tentang solusi yang terbaik untuk Anda dan pekerjaan Anda tentunya. Hal ini memang bukan hal mudah tetapi akan mudah ketika ada keinginan kuat untuk berubah dan belajar.
(Yeye)