Loket Non-tunai Rawat jalan sebagai Dukungan terhadap Gerakan Nasional Non-tunai

Salah satu program baru yang ada di RSUD Ngudi Waluyo WlingiBlitar di tahun 2018 ini adalah loket pembayaran non-tunai.Secara umum, adanya loket pembayaran ini diharapkan dapat mempermudah pasien dalam membayar dan meningkatkan kualitas pelayanan di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar. Secara khusus, sistem ini adalah bentuk dukungan kepada program pemerintah yaitu Gerakan Nasional Non-Tunai.

 

Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) merupakan program pemerintah yang mulai dicanangkan pada Agustus 2014.Pencanangan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pelaku bisnis, dan juga lembaga-lembagapemerintah untuk menggunakan sarana pembayaran non-tunai dalam melakukan transaksi keuangan, yang tentunya mudah, aman, dan efisien. GNNT ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non-tunai, sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas atau masyarakat yang lebih menggunakan instrumen non-tunai (Less Cash Society/ LCS) khususnya dalam melakukan transaksi atas kegiatan ekonominya. Bank Indonesia menargetkan gerakan ini menjangkau sedikitnya 25 persen penduduk Indonesia pada tahun 2024 nanti, atau 10 tahun sejak tahun pencanangannya.

 

Program RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar yang bekerja sama dengan Bank Jatim ini, mulai berjalan sejak 5 Februari 2018.

 

Adanya sistem baru ini, pasien dengan metode pembayaran umum (selain asuransi, askes, maupun BPJS) dapat melakukan pembayaran terpusat di loket Bank Jatim. Loket ini terletak di Gedung Poliklinik RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar sebelah meja resepsionis. Sebelumnya, pasien umum melakukan pembayaran tindakan di masing-masing instalasi. Baik poliklinik maupun pemeriksaan penunjang. Tidak ada yang berubah dari tarif pemeriksaan, hanya perubahan sistem pembayaran saja.

 

Plt. Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar, dr. Endah Woro Utami, M.MRS menyatakan bahwa tujuan lebih jauh dari loket pembayaran nontunai ini adalah untuk transparasi data administrasi keuangan. Dengan sistem ini, petugas tidak lagi memegang uang dari pasien, semua langsung diserahkan kepada petugas loket dari Bank Jatim untuk masuk ke rekening rumah sakit.

 

Saat ditemui oleh tim Trust Hospital, seorang keluarga pasien mengaku masih bingung dengan sistem baru ini. “Sebenarnya ini bertujuan baik, tetapi kadang kita repot harus beberapa kali bolak-balik kalau ada pemeriksaan sebelum ke poliklinik soalnya dapat 2 kwitansi,” ujar salah seorang keluarga pasien yang tidak mau disebut namanya ini.

 

Sebagai program baru RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar, loket pembayaran non-tunai tentu masih perlu perbaikan sistem, mulai dari sosialisasi, promosi, dan teknis di lapangan. Harapan ke depan, sistem ini dapat mempermudah pasien, mewujudkan transparansi data keuangan di rumah sakit, dan menjamin transaksi yang mudah, aman, dan efisien. (yur/mqa)