RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Unggulan Kegawatdaruratan Blitar

  1. Public Safety Center (PSC)

Public Safety Center (PSC) merupakan layanan kegawatdaruratan yang disediakan RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar berupa ambulans dan tenaga kesehatan 24 jam gratis. Kasus kegawatdaruratan yang dapat ditangani PSC antara lain kecelakaan, serangan jantung, stroke kurang dari 4 jam, kegawatan kehamilan dan kegawatan neonates (bayi). Untuk saat ini, layanan PSC hanya dapat dilakukan di wilayah kecamatan Doko, Gandusari, Wlingi, Selopuro dan Kesamben dengan menghubungi Tim PSC ke Emergency Call 0822 3333 1338.

Seiring berjalan waktu tingkat mobilitas masyarakat di Blitar Raya dan sekitarnya semakin meningkat, potensi atau risiko terjadinya kecelakaan atau trauma pun ikut meningkat. Melihat potensi risiko tersebut, RSNWW menyadari perlunya satu sistem penanganan trauma yang terkoordinasi, komprehensif dan terintegrasi dengan prosedur yang optimal. Manajemen trauma adalah serangkaian pelayanan yang melibatkan beberapa fasilitas di dalam rumah sakit, mulai dari pre hospital (ambulans/Tim PSC), Unit Gawat Darurat, Instalasi Bedah Sentral, Unit Kamar Bedah, Unit Intensive Care, Pelayanan Penunjang Diagnostik 24 jam berupa Unit Laboratorium dan Unit Radiologi yang dilengkapi USG, CT Scan dan Xray yang berperan dalam mendeteksi dini dan diagnosis cedera organ yang terjadi, Unit Bank Darah, layanan farmasi 24 jam, rehabilitasi medik hingga pasca hospital yang teritegrasi dalam satu sistem yang saling terkait. Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat mencakup dokter umum, dokter spesialis dari disiplin bedah umum, bedah saraf, bedah tulang, radiologi, juga melibatkan tenaga perawat terlatih di bidang kegawatdaruratan dan trauma, ahli gizi serta terapis.

RSNWW juga telah menjalin kerja sama dan mendapat dukungan penuh dari BPJS Ketenagakerjaan. Pelayanan untuk penanganan kasus kecelakaan pun diperkuat dengan dukungan PT Jasa Raharja yang memberikan santunan hingga tuntas bagi para pesertanya yang menjadi pasien Trauma Center .

Adapun hingga kini, Tim PSC (Trauma) RSNWW paling banyak menangani kasus cedera kepala, trauma tulang, patah tulang, cedera tangan pada pekerja dan cedera perut. Tak hanya menangani pasien yang datang sendiri ke IG, RSNWW juga menerima rujukan kasus trauma baik dari FKTP dan RS jejaring dalam Kabupaten Blitar, tetapi juga dari luar Kabupaten Blitar.

 

  1. Unit Stroke Center

Layanan stroke multidisiplin di RSNWW telah dimulai sejak 2017 dengan didirikan Unit Stroke Center yang merupakan stroke unit pertama di Kabupaten Blitar. Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat mencakup dokter umum, dokter spesialis dari disiplin neurologi, bedah saraf, kardiologi, penyakit dalam, radiologi, juga melibatkan tenaga perawat terlatih di bidang stroke, ahli gizi serta terapis.

 

Layanan yang diberikan mencakup layanan intervensi-teraupetik serta perawatan unit stroke. Tindakan intervensi-terapeutik telah dilakukan pada puluhan pasien sejak bulan April 2019. Tindakan operasi terutama untuk kasus stroke ICH (Intracranial Hemorrhage), IVH (Intraventricular Hemorrhage), SDH (Subdural Hemorrhage) kronis serta NCH (Non-communicating hydrocephalus).

 

Perawatan unit stroke dilakukan sesuai standar penatalaksanan stroke. Untuk stroke perdarahan berupa perdarahan di dalam otak atau intracranial hemorrhage (ICH), pasien memerlukan perawatan selama 14 hari, perdarahan pada selaput otak atau sub-arachnoid hemorrhage (SAH) memerlukan hari perawatan selama 21 hari, stroke sumbatan memerlukan lama perawatan antara 7-10 hari.

 

Ruang Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar memiliki 16 tempat tidur yang terdiri 2 ruangan, yaitu ruang perawatan non-intensif sejumlah 12 tempat tidur dengan 2 kamar mandi didalam dan ber AC dan ruang intensif yang mempunyai 4 tempat dur dengan 1 kamar mandi di dalam, AC, dan bed side monitor. Sumber daya manusia di ruang Stroke Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar sejumlah 20 orang, terdiri: 1 dokter spesialis saraf, 1 dokter umum sebagai case manager, 14 perawat, 3 penyaji/ pembantu perawat, 1 petugas administrasi.

 

  1. Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK)

PONEK merupakan salah satu upaya kuratif-rehabilitatif bagi pasien-pasien dengan kondisi emergensi Obstetri-Neonatal yang menjadi penyebab utama kematian ibu dan bayi baru lahir. Cakupan area PONEK mencakup sekitar 60% dari penyebab utama kematian ibu yakni perdarahan (27%), partus macet (15%), eklampsia (11%) serta infeksi (7%) dan 42% dari penyebab utama kematian neonatal yakni asfiksia (22%), prematuritas (15%) serta kejang (5%).

Layanan yang disediakan antara lain pelayanan kesehatan maternal dan neonatal fisiologis, pelayanan kesehatan maternal dan neonatal dengan risiko tinggi, pelayanan kesehatan neonatal, pelayanan ginekologis, dan perawatan intensif neonatal. Tim layanan PONEK terdiri atas dokter umum dan PPDS di IGD, Poliklinik dan Rawat Inap, dokter spesialis dari disiplin obstetri dan ginekologi, anastesi, juga melibatkan tenaga perawat terlatih di bidang kegawatdaruratan neonates, bidan terlatih di bidang kegawatdaruratan maternal.

Untuk menekan jumlah kematian dan kesakitan ibu hamil, RSNWW memperkuat sistem rujukan pelayanan kesehatan menggunakan SIJARIEMAS. SIJARIEMAS – Sistem Informasi dan Komunikasi Jejaring Rujukan Pelayanan Kesehatan Masyarakat, dibuat, dikembangkan serta diimplementasikan dengan tujuan memperbaiki komunikasi dan koordinasi antara berbagai fasilitas kesehatan selama proses rujukan maternal, memperbaiki kesiapan rumah sakit jejaring rujukan) untuk menangani rujukan kegawatdaruratan yang masuk, menjamin rujukan ditujukan ke rumah sakit dengan cara yang efisien untuk mencegah pasien dirujuk ke rumah sakit sebelum menerima tindakan, serta mendorong pertukaran informasi kasus rujukan kegawatdaruratan di antara para penyedia layanan kesehatan.

SIJARIEMAS menyediakan data untuk Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan rumah sakit untuk membantu memahami proses rujukan dan memperbaiki kualitas layanan yang diberikan. Data kunci yang dikumpulkan melalui sistem ini termasuk data kasus rujukan, termasuk ciri-ciri penting pasien, diagnosis, dan skema asuransi, ringkasan tindakan yang diberikan kepada pasien pra dan pasca rujukan, komunikasi di antara fasilitas kesehatan mengenai kasus rujukan, termasuk advis tindakan dari rumah sakit pada puskesmas, serta waktu respon terhadap permintaan rujukan.

Tindakan terkait maternal yang paling banyak dilakukan antara lain asuhan persalinan normal (APN), kuretage, biopsy, pemasangan IUD pasca placenta, dan pemasangan implant post partum (setelah melahirkan). Sedangkan modalitas penunjang terkait perawatan intensif neonatal yang dimiliki berupa CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) untuk bayi dengan masalah pernapasan, fototerapi untuk bayi kuning, ventilator serta inkubator. (hk)